Pada postingan kali ini saya ingin berbagi teks pidato amanat pembina upacara
dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-81 Republik Indonesia.
Biasanya atau kebanyakan pembina upacara membacakan teks pidato yang dari
Bapak Menteri Pendidikan. Namun saya berpendapat itu kurang cocok ketika
dibacakan untuk siswa terutama jenjang sekolah dasar.
Untuk itu saya mencoba membuatkan teks pidato yang ditujukan khusus untuk para
siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang semuka menjadi referensi Bapak/Ibu Guru atau Kepala
Sekolah yang menjadi pembina upacara.
AMANAT PEMBINA UPACARA
DALAM RANGKA HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Bapak/Ibu Guru, serta anak-anakku sekalian yang saya banggakan.
Alhamdulillah, pagi hari ini kita dapat melaksanakan upacara bendera dalam suasana yang penuh rasa syukur untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Anak-anakku,
Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati sebuah peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya melalui sebuah peristiwa yang kita kenal sebagai Proklamasi Kemerdekaan.
Tetapi, apakah kemerdekaan itu diperoleh dengan mudah?
Tentu tidak.
Kemerdekaan Indonesia lahir melalui perjuangan yang panjang. Bertahun-tahun rakyat Indonesia mengalami penjajahan, penderitaan, dan berbagai bentuk perjuangan untuk mempertahankan martabat bangsa.
Menjelang kemerdekaan, terjadi berbagai peristiwa penting. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada bulan Agustus 1945, para pemuda Indonesia mendesak para pemimpin bangsa agar segera memproklamasikan kemerdekaan.
Bahkan, pada tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa oleh para pemuda ke Rengasdengklok. Peristiwa ini dilakukan agar para pemimpin bangsa segera mengambil keputusan untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Anak-anak, coba bayangkan.
Pada saat itu belum ada internet. Belum ada telepon pintar. Belum ada media sosial yang dapat digunakan untuk menyebarkan berita dalam hitungan detik.
Namun, para pejuang bangsa tetap mampu menyatukan tekad untuk menentukan masa depan Indonesia.
Setelah terjadi kesepakatan, Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta. Pada malam harinya, para tokoh bangsa berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol, Jakarta.
Di tempat itulah teks Proklamasi Kemerdekaan dirumuskan.
Siapa yang menyusun teks Proklamasi?
Di antaranya adalah Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.
Kemudian, teks tersebut diketik oleh Sayuti Melik.
Pagi harinya, tepat pada 17 Agustus 1945, sekitar pukul 10.00, Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno, didampingi Drs. Mohammad Hatta, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Saat itu, bendera Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan.
Sederhana memang.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada pengeras suara modern. Tidak ada siaran televisi seperti sekarang.
Tetapi dari tempat yang sederhana itu, lahirlah sebuah peristiwa besar yang mengubah sejarah bangsa Indonesia.
Anak-anakku,
Coba kita renungkan.
Para pejuang pada zaman dahulu berjuang dengan tenaga, pikiran, keberanian, bahkan mempertaruhkan nyawa. Mereka tidak menikmati kemerdekaan seperti yang kita rasakan hari ini.
Kita dapat bersekolah dengan tenang.
Kita dapat belajar menggunakan buku dan teknologi.
Kita dapat bercita-cita menjadi guru, dokter, polisi, tentara, pengusaha, ilmuwan, pemimpin, dan berbagai profesi lainnya.
Semua itu tidak terlepas dari kemerdekaan yang diperjuangkan oleh generasi sebelum kita.
Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menghargai kemerdekaan?
Tidak harus dengan mengangkat senjata seperti para pejuang dahulu.
Bagi kalian sebagai pelajar, salah satu bentuk perjuangan pada zaman sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh.
Datang ke sekolah tepat waktu.
Menghormati guru dan orang tua.
Rajin membaca dan menambah pengetahuan.
Menjaga persahabatan dengan teman.
Menjaga kebersihan sekolah.
Berani mencoba dan tidak mudah menyerah.
Serta menggunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat.
Anak-anakku yang saya banggakan,
Jangan sampai kita hanya hafal bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan, tetapi tidak memahami bagaimana kemerdekaan itu diperjuangkan.
Kemerdekaan bukanlah hadiah.
Kemerdekaan adalah hasil perjuangan, pengorbanan, keberanian, dan persatuan para pendahulu kita.
Karena itu, setiap kali kita melihat bendera Merah Putih berkibar, ingatlah bahwa di balik warna merah dan putih itu terdapat sejarah panjang perjuangan bangsa.
Merah mengingatkan kita pada keberanian.
Putih mengingatkan kita pada kesucian dan ketulusan perjuangan.
Dan tugas kita sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga dan mengisinya dengan karya dan prestasi.
Anak-anakku,
Kalian adalah generasi yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini.
Jika dahulu para pejuang berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas generasi sekarang adalah membuat kemerdekaan itu semakin berarti.
Belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Bermimpilah setinggi mungkin.
Jangan takut gagal.
Jangan mudah menyerah.
Dan jadilah generasi yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju.
Mari kita terus mengenang jasa para pahlawan bukan hanya dengan upacara, tetapi juga dengan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga semangat perjuangan para pahlawan selalu menjadi inspirasi bagi kita semua.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!
Terus melaju, Indonesia!
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Salam sejahtera untuk kita semua.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bila ada koreksi kritik dan saran silahkan sampaikan melaui kotak komentar
dibawah ini.
Posting Komentar
2. Semua komentar kami baca, namun tidak semua dapat dibalas harap maklum.
3. Beri tanda centang pada "Beri tahu saya" untuk pemberitahuan jika komentar Anda telah kami balas.